Pantai Yanain Hulaliu - Pantai Losari Makassar

Kegiatan dan Ibadah

1. BP IKKHAR Makassar mengucapkan terimakasih atas partisipasi warga IKKHAR yang telah menyumbang untuk pembangunan GPM Bethlehem jemaat Hulaliu, baik melalui Kartu Donatur, Kotak, maupun transfer dana. Kristus memberkati katong samua.

2. Bila ada yang ingin mengirim tulisan, foto atau informasi tambahan silahkan email ke: ikkharmakassar@yahoo.com, atau melalui Sekertariat IKKHAR makassar, Jl.Lanto Dg Pasewang 53 Telp: 0411-850460 – 04115700720 – 08124272470. Hak muat dan editing ada pada Blogmaster atas seizin BP IKKHAR Makassar.

Minggu, 22 Agustus 2010

Untaian Karya Tuhan di Negeri Perantauan

Sekilas Lintas Perjalanan Terbentuknya IKKHAR Makassar

Cikal Bakal

Kehadiran orang-orang Maluku di Makassar terjadi pada awal abad ke XIX. Orang-orang Maluku pendatang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok yang tergabung sebagai serdadu Belanda, yang didominasi oleh suku Maluku (Ambon), Minahasa, Sangir dan Timor. mereka ini sangat taat sebagai pemeluk agama Kristen.
Oleh karena status sebagai tentara (sordadu) yang selalu berpindah-pindah tempat dengan mengikut sertakan keluarga, maka dapat dikatakan anak-anak mereka kurang mendapat pendidikan yang baik.

Kehadiran warga Maluku lainnya di Makassar, adalah dari kelompok SIPIL yang oleh orang Belanda dinamakan sebagai klass BURGER. Kehadiran orang Maluku dari kelompok sipil ini umumnya sebagai, pengawai pemerintah, pekerja bengkel, pengawai perusahaan perkapalan juga guru dan guru Injil (saat itu pemerintahan di Indonesia masih dikuasai Belanda). Kelompok ini dapat bertahan lama disuatu tempat dan melakukan kegiatan atas persamaan budaya dan agama.

Di sekitar tahun 1920, Sebelum Jepang menguasai Makassar, kelompok Maluku pendatang di Makassar umumnya mendiami lokasi disekitar kampung Mardikaya sampai kampung Maricaya/Dadi (sekarang jalan G.Latimojong d/h Mardikaya weg, Salahutu d/h Ambon weg, dsk, ke jalan Rusa). Sedangkan tenaga-tenaga guru yang umumnya berasal dari negeri Hulaliu, langsung ditempatkan di pedalaman Tana Toraja.

Di era 1920 – 1930, kelompok-kelompok ini saling berinteraksi satu sama lainnya, lalu terjadi kawin mawin membentuk keluarga Kristen yang kian lama makin banyak. Orang-orang Maluku pendatang di Makassar awalnya melakukan aktivitas keagamaan dari rumah kerumah, lalu berkembang dalam suatu wadah kebaktian keluarga yang disebut BIDSTOND (baca Beston). Aktivitas keagamaan ini berkembang begitu cepat sehingga timbul pemikiran untuk melakukan kegiatan keagamaan berdasarkan kampung (negeri) asal mereka. Seperti usaha keluarga berasal dari negeri Nusalaut di Makassar, melalui Bapak Jonathan Pattinasarany dan Bapak Philipus Sitaniapessy (Oom IPI) dan kawan-kawan membentuk satu perkumpulan yang diberi nama, Persatuan Umat Nusahulawano (PUN). Dan selanjutnya berdiri pula, perkumpulan warga Maluku di Makassar yang berasal dari pulau Haruku dengan nama perkumpulan “Buang Bessi”.

Pada era yang sama warga Maluku pendatang lainnya yang berasal dari negeri Hulaliu, Bapak guru Martinus Izaak dan guru Matheos Taihutu, melakukan kegiatan pada setiap hari Minggu, saat selesai ibadah Minggu, mereka berdua mengunjungi warga Hulaliu lainnya dan mengadakan doa bersama. Aktivitas kedua guru ini belum dalam usaha membentuk suatu wadah (persekutuan), tetapi ini merupakan sebuah embrio yang kemudian hari, terbentuk suatu perkumpulan warga Hulaliu dengan nama IKKHAR Makassar

Perkembangan

Seperti sudah diuraikan sebelumnya tentang kehadiran orang-orang Maluku pendatang di Makassar, yang kehadiran mereka ada sebagai tentara dan juga sebagai orang sipil. Keberadaan kelompok orang-orang Maluku pendatang di Makassar, terikut pula beberapa orang anak negeri Hulaliu dalam kapasitas sebagai guru.
Ada beberapa guru langsung ke pedalaman Tana Toraja (Mamasa, Pantilang, Salubanga, Bua kayu, Masamba, Rongkong dan lain-lain tempat yang tidak dapat kami sebutkan. Tetapi ada juga yang ditempatkan di Makassar dan sekitarnya seperti Guru Martinus Izaak di Tombolo dan guru Matheus Taihutu di Lombassang, (Malino).

Dasar kehidupan masyarakat Maluku, khususnya anak negeri Hulaliu yang mempunyai ikatan kekeluargaan yang sangat erat dengan kebiasaan hidup bergotong royong yang terkenal dengan istilah “MALOU`U atau istilah umum di Maluku dengan kata “Masohi”, budaya hidup bergotong royong meliputi semua aspek kehidupan masyarakat yang terbawa sampai keluar kampungnya.

Sejak orang-orang Hulaliu mengenal agama Kristen, kesetiaan dan kepatuhan anggota jemaat dalam berbagai ibadah seperti, Ibadah Minggu, Gabeti (ibadah kunci Usbuh) dan Arahad (Ibadah sekolah Minggu) membuat Josef Kam bernubuat Berkat terhadap negeri Hulaliu, salah satunya : “Negeri ini akan lahir guru-guru Midras, guru Agama, dalam jumlah yang banyak”.
Bukti Nubuat tersebut, negeri Hulaliu dikenal dengan julukan “Negeri Gudang Guru”. Bahwa setiap orang, baik tua maupun muda, dari dahulu sampai saat ini, pasti mengenal atau pernah diajar oleh salah satu guru asal dari negeri Hulaliu. Guru-guru dari negeri ini tersebar dimana-mana, dari Papua, Maluku, Sulawesi Utara, tengah dan khususnya Sulawesi Selatan ( Makassar dan Tanah Toraja).

Umumnya sifat orang-orang Maluku hidupnya rukun dan senang berkumpul, begitu pula dengan keadaan anak-anak negeri Hulaliu di Makassar. Beberapa guru aktif melakukan doa bersama, sehingga timbulah pemikiran dan gagasan untuk melahirkan suatu organisasi kemasyarakatan, yang kelak disebut IKKHAR.

Sekitar tahun 1920 – 1933, jumlah orang-orang Maluku asal negeri Hulaliu di Makassar baru beberapa orang saja, kehidupan dan aktivitas mereka masih menyatu dengan kelompok Maluku pendatang lainnya.
Awal pergerakan ini sewaktu Bapak Marthinus Izaak yang bertempat tinggal di Jongaya sebagai guru sekolah, beliau melakukan perkunjungan ke Makassar kerumah keluarga-keluarga Hulaliu antara lain, Bapak Pere Tuwanakotta, Bapak Evert Tuwanakotta, (dengan panggilan Oom Epe, mantan Bapa Raja Neg Hulaliu, ayah dari Ibu Koba dan Agus Tuwanakotta), Bapak Minggus Noija, Bapak Tinus Noija dan Bapak Hermanus Laisina.(Opa dari Harry, Eddy dan Maya Laisina)

Perkunjungan bapak guru Tinus Izaak, bersama guru Matheus Taihutu ke rumah-rumah keluarga Hulaliu ini dilakukan setelah Ibadah Minggu di Gereja, dan dibarengi dengan Doa bersama. Perkunjungan ini tidak saja dilakukan pada keluarga Hulaliu, tetapi berkembang juga pada keluarga Pela Paperu, antara lain yang dapat kami sebut, Keluarga Pela Uka Latumahina dan Keluarga Pela Ris Latumerissa.

Dipertengahan tahun 1930, Bapak guru Marthinus Izaak dipindahkan dari Jongaya ke Makassar di kampung Mardikaya (Jalan S.Limboto Lrg 49/15). Dan di tahun inilah beliau bersama-sama, Bapak Pere Tuwanakotta, Bapak Marthinus Laisina, dan Ibu Bertha Laisina, yang mempelopori secara resmi membentuk satu kelompok Doa dari anak-anak Haturesi di Makasar.

Perkumpulan sembahyang ini lahir apa adanya tanpa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD / ART). Tetapi berkat kasih sayang Tuhan wadah ini berjalan dalam damai, sehingga anggotanya makin bertambah banyak, oleh karena anak-anak negeri Hulaliu sudah pada berdatangan ke Makassar dengan setiap kepentingan.
Tahun 1942 kota Makassar dalam keadaan darurat, oleh karena tentara kerajaan Jepang sudah menguasai Indonesia timur, termasuk Makassar. Banyak dari keluarga anak negeri Hulaliu mengambil inisiatif untuk menyingkir ke luar kota (desa Pao-Pao, Kasimberang, Sungguminasa, Pakatto). Perkumpulan sembahyang yang sudah berjalan selama 12 tahun terpaksa aktivitasnya sangat terbatas, tetapi aktivitas perkunjungan dari rumah kerumah tetap berjalan sesama anak negeri Hulaliu antara lain. Bpk Tiang Sahureka, Bpk Tinus Noija, Bpk Sili Noija, Bpk Juli Siahaya, Bpk Neles Taihutu, Bpk Epe Tuwanakotta, mereka tetap bersatu melayani satu dengan lainnya ditempat penyingkiran.

Era Paska Kemerdekaan - Perkumpulan Sembahyang "Siloha"

Di tahun 1945 Kemerdekaan Bangsa Indonesia, keadaan belum juga normal, keberadaan keluarga Hulaliu serba tidak menentu, ada yang sudah kembali dari pengungsian, tetapi masih ada juga yang belum.

Nanti di tahun 1947, Bapak Julianus Siahaya (juli besar) mengambil inisiatif menghimpun kembali anak-anak Haturesi, perkumpulan sembahyang yang sudah berjalan selama 17 tahun sudah tidak terurus lagi. Bapak Julianus Siahaya dan kawan-kawan, mengaktifkan kembali perkumpulan sembahyang tersebut dalam suatu wadah dengan nama Perkumpulan Sembahyang “SILOHA”. Nama yang dikutip dari Alkitab yaitu kolam Siloam.
Perkumpulan Sembahyang Siloha ini dideklarasikan sewaktu warga Maluku masih dalam penampungan di Fort Roterdam (Benteng Jumpandang). Lalu bapak Juli Siahaya dipercayakan sebagai Ketua dan bapak Eli Tuwanakotta sebagai penulis (Sekretaris). Mereka sangat aktif melakukan ibadah dari rumah kerumah, dan hasil kolekte disimpan oleh sekretaris.
Menurut catatan Drs Hengky Siahaya bahwa ditahun 1950, perkumpulan sembahyang Siloha ini mengadakan perubahan kepemimpinan oleh karena Bapak Julianus Siahaja pulang ke Ambon. Lalu bapak Tinus Noija (ayah dari ibu Mien Rieuwpassa-Noija) ditunjuk sebagai ketua, posisi sekretaris tetap dijabat oleh bapak Elli Tuwanakotta. (ayah dari Pieter Tuwanakotta). Mereka juga sepakat mengangkat seorang bendahara yang dipercayakan kepada bapak guru Losir Noija (Oom Sili), sehingga seluruh uang kolekte diserahkan ke Bendahara.
Sekitar bulan September atau Oktober tahun 1950, beberapa anak Haturesi antara lain Bapak Eli Tuwanakotta, Tinus Noiya dan Bapak Frits Matulessy mengadakan pertemuan dirumah bapak Lodik Tuwanakotta untuk membicarakan salah satu niat dan kewajiban untuk membantu salah satu keluarga Pela Paperu yang sedang dilanda musibah. Bantuan dari perkumpulam Siloha ini dengan mengedarkan list sumbangan dikalangan keluarga Haturesi.

Metamorfosis ke IKKHAR

Di tahun 1956 bapak Johannis Izaak (nani bone) pindah dari Bone ke Makassar dengan jabatan sebagai pejabat Catatan Sipil kota Makassar. Ditahun ini terjadi perkembangan baru, setelah pertemuan para tokoh anak Haturessi di rumah bapak Bastian Sahureka (Oom Tian) di Jalan Gunung Nona, kelompok sembahyang Siloha berubah nama menjadi satu wadah yang berciri khas anak negeri Hulaliu (Haturesi), dengan nama IKATAN KEKELUARGAAN HATURESI RAKANYAWA. Dan saat itu ditunjuk sebagai ketua IKKHAR ialah bapak Johannis Izaak (muda), Wakil bapak Chali Tuwanakotta, Sekretaris bapak Chris Noiya, Bendahara bapak Manus Siahaya, dan pembantu bapak Timatheus Taihutu, dan Hengki Siahaya.
Selama dua tahun aktivitas persekutuan ini berjalan seperti biasa, perkunjungan keluarga, mengadakan Bedston (Ibadah keluarga) tetap berjalan secara rutin.
Tahun 1958 dikeluarkannya Instruksi Pemerintah bahwa ; Semua organisasi massa atau organissi apapun harus mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), merespon himbauan ini pengurus membentuk team penyusun AD/ART yang terdiri dari lima personil :

1. Bapak Pendeta Dominggus Siahaya.
2. Bapak Johannis Izaak (Oom Nani Bone)
3. Bapak Frits Matulessy
4. Bapak Tinus Noija
5. Bapak Losir Noija (Oom Sili)

Dalam rapat pengurus IKKHAR dengan tim 5 serta pemuka-pemuka anak Haturesi, pada tanggal 23 November 1958, bertempat di rumah bapak Johannis Izaak (Nani Bone) jalan Sungai Saddang (d/h Hotel Negara), dimufakati dua keputusan yang punya nilai sejarah bagi perjalanan perkumpulan anak-anak negeri Hulaliu di Makassar ialah :

1. Kumpulan Sembahyang anak-anak Hulaliu di Makassar, yang awalnya hanya secara tradisionil, kini menjadi suatu organisasi kerukunan daerah bersifat Social Religius dengan tetap mempertahankan nama yang sudah dicetuskan sebelumnya yaitu “IKATAN KEKELUARGAAN HATURESI RAKANYAWA” disingkat “IKKHAR” Makassar.

2. Perkumpulan IKKHAR Makassar ini sudah lengkap dengan Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga sendiri.

Dengan lahirnya dua ketetapan penting dan bersejarah itu, ditetapkan pula bahwa ditanggal 23 November sebagai hari lahirnya “IKHHAR” Makassar. Dan setiap perayaan Syukur memperingati hari lahirnya IKKHAR, sebelum acara berjalan, hadirin berdiri dan menyanyikan beberapa lagu adat (lagu bahasa tanah) yang mengambarkan keaslian adat istiadat kepribadian anak negeri Hulaliu.

Dalam perjalanan sejarah IKKHAR Makassar, sesuatu yang menjadi kebanggaan sebagai anak- anak Hulaliu di Makassar, bahwa organisasi ini pernah terbentuk bidang kepemudaan, (1964) yang diketuai oleh Drs Hengky.M.Siahaya dibantu pengurus lainnya antara lain ; Selvie Siahaya, Non Matulessy, Tien Izaak dll.

Aktivitas kepemudaan IKKHAR ini adalah menyanyi di gereja, melakukan kebaktian pemuda dari rumah kerumah anggota, dengan jadwal dua kali dalam satu bulan. Partisipasi pemuda IKKHAR di tahun 1968, pernah ikut dalam pawai subuh pada perayaan Paskah yang diselenggarakan oleh Gereja-gereja sekota Makassar.
Agustus 1970, Pemuda IKKHAR turut mengambil bagian dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI, di istana Gubernuran Makassar (saat itu Gubernur Ahmad Lamo) mewakli masyarakat Maluku di kota Makassar, dengan menampilkan tarian Cakalele, tarian khas orang Maluku. (pesertanya antara lain : Nootje Selano, Jacky Siahaya, Arnold Nanlohy
Lalu masa bakti kepemimpinan Hengki Siahaya di kepemudaan ini berakhir, digantikan oleh Butje Noija (anggota Sipil AL).

Perlu untuk di hayati bersama bahwa, kelompok Doa yang dirintis oleh Bapak guru Marthinus Izaak dan guru Matheus Taihutu di era 1934, sampai dengan perkumpulan sembahyang Siloha hingga terbentuknya suatu organisasi yang punya Anggaran Dasar dan Rumah Tangga dengan nama IKKHAR Makassar, adalah merupakan suatu mata rantai perjalanan sebuah organisasi yang awalnya hanya aktif dalam perkunjungan doa tradisional, meningkat menjadi perkumpulan sebahyang bersifat sosial. Yang sudah diwariskan oleh pendahulu kita kepada generasi sekarang maupun yang akan datang, untuk dilestarikan dan dijadikan suatu nilai sejarah bahwa, IKKHAR Makassar adalah suatu organisasi anak-anak negeri Hulaliu di rantau yang tertua, dari IKKHAR lainnya yang ada di bumi Nusantara ini.

BEBERAPA CATATAN :

Pada tanggal 9 Agustus 1980, IKKHAR Makassar memberi bantuan dana sebesar Rp. 287.500. ke Yayasan pembangunan Hulaliu, yang diperuntukkan pada pembangunan gedung SMP Negeri Hulaliu, yang diserahkan melalui ketua I bapak Drs. Hengki.M.Siahaya.

Pada perayaan HUT IKKHAR yang ke 71, tanggal 23 November 2000, dirayakan di kediaman Ibu Mien Rieuwpassa – Noija, Jalan Samiun Makassar, tercatat hingga saat itu jumlah anggota keluarga IKKHAR sebanyak 59 KK, atau kurang lebih 240 jiwa.
Pada perayaan HUT IKKHAR yg ke 81, (2009)bertempat di Jalan Lanto dg Pasewang, populasi keluarga IKKHAR Makassar sebanyak 106 KK, atau sekitar 332 jiwa. yang tercatat dalam jumlah tersebut sampai dengan keturunan ke tiga dari generasi guru Marthinus Izaak dkk.

IKKHAR adalah suatu organisasi kerukunan daerah yang bersifat sosial Religius, dengan kegiatan rutin adalah ibadah Keluarga, yang dijadwalkan setiap minggu secara bergiliran di setiap anggotanya, lalu oleh karena perkembangan kota Makassar dimana banyak dari anggota IKKHAR yang pindah berdomisili di luar kota seperti di Sungguminasa, kompleks perumahan Antang, Sudiang dan Minasa Upa. sehingga jadwal ibadah yang awalnya perminggu, berubah menjadi dua kali dalam satu bulan.

Disari dari embrio buku "Sekilas IKKHAR Makassar" yang masih dalam penyempurnaan penulisan dan akan segera diterbitkan, yang ditulis oleh Empie & Piet Moka - Cucu Guru Martinus Izaak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar